Rabu, 12 Mei 2010

PENTINGNYA MENGEMBANGKAN SUARA HATI

PENTINGNYA MENGEMBANGKAN SUARA HATI

PENDAHULUAN

oLatar Belakang Masalah
Setiap manusia mempunyai HATI NURANI yang menuntut manusia untuk berlaku berdasarkan prinsip-prinsip moral, seperti bertindak adil, benar, dan jujur. Tuntutan tersebut bersifat mutlak atau tidak bisa ditawar-tawar, bukan berdasar pertimbangan untung atau rugi, bukan pula berdasarkan perasaan senang atau tidak senang, misalnya saja bila ada orang yang tidak melakukan tindakan moral (seperti mencuri, membunuh, menganiaya, berlaku tidak adil, dll), orang tersebut akan merasa malu, bersalah dll, bahkan seandainya tidak ada orang lain yang mengetahuinya.

Pertanyaannya, "Dari manakah tuntutan HATI NURANI yang bersifat mutlak tersebut?" Pastilah bukan sebuah realitas di luar diri manusia (misalnya alam, orang lain, atau masyarakat), karena tuntutan apapun yang berasal dari luar selalu masih dapat dipertanyakan oleh SUARA HATI, "Apakah tuntutan dari pihak luar tersebut sesuai atau tidak dengan tuntutan HATI NURANI?".
Dapat ditambahkan bahwa tuntutan dari pihak luar hanya mengikat sejauh tidak bertentangan dengan HATI NURANI (seperti apa yang baik, adil, jujur, benar, dan sebagainya). Pertanyaannya, "Dari manakah tuntutan HATI NURANI yang bersifat mutlak tersebut?" Pastilah bukan sebuah realitas di luar diri manusia (misalnya alam, orang lain, atau masyarakat), karena tuntutan apapun yang berasal dari luar selalu masih dapat dipertanyakan oleh SUARA HATI, "Apakah tuntutan dari pihak luar tersebut sesuai atau tidak dengan tuntutan HATI NURANI?". Dapat ditambahkan bahwa tuntutan dari pihak luar hanya mengikat sejauh tidak bertentangan dengan HATI NURANI (seperti apa yang baik, adil, jujur, benar, dan sebagainya).


oRumusan masalah

1.Apakah sebenarnya hati nurani itu?
2.Bagaimanakah hubungan antara hati nurani dan kesadaran moral tersebut?
3.Bagaimanakah mengembangan kesadaran moral tersebut?
4.Bagaimana peranan suara hati dalam perilaku seseorang?
5.Bagaimana hubungan antara hati nurani dengan superego? Apakah hati nurani sama saja dengan superego atau ada perbedaan juga?






oTujuan penulisan

1.Kita dapat mengetahui dan mengerti apakah sebenarnya yang dinamakan hati nurani itu.
2.Kita dapat mengetahui hubungan yang sebenarnya antara hati nurani dan kesadran. moral,karena mengingat pentingnya kesadaran moral tersebut dalam tingkah laku kita sehari – hari.
3.Karena pentingnya kesadaran moral tersebut,maka penting juga bagi kita untuk tau bagaimana mengembangkan kesadaran moral tersebut.
4.Agar kita mengetaui apakah ada hubungan antara hati nurani dengan tindakan kita sehari- hari,karena sering kali kita dengan apabila sesorang yang tega terhadap mahkluk lain maka akan dikaitkan dengan hati nurani orang tersebut.
5.Agar kita mengetaui apakah itu superego dan hubungannya dengan hati nurani.






LANDASAN TEORI
ARTI SUARA HATI

Kesadaran moral kita dalam situasi konkret yakni mengenai apa yang menjadi tanggungjawab dan kewajiban kita sebagai manusia.
• Kesadaran itu merupakan kesadaran dalam batin bahwa kita berkewajiban mutlak untuk selalu menghendaki bagi apa yang menjadi kewajiban dan tanggungjawab kita, sehingga dari kehendak itulah tergantung kebijakan saya sebagai manusia dan bahwa diri sendirilah yang mengetahui apa yang menjadi tanggungjawab dan kewajiban.
• Suara hati bersifat mutlak, artinya entah kita menuruti atau tidak, tuntutan tersebut tetap ada.

SUARA HATI MENYATAKAN DIRI BERHADAPAN DENGAN TIGA LEMBAGA NORMATIF

• Suara hati menyatakan diri lewat sikap yang kita ambil dalam menghadapi keadaan konkret di dalam hidup ini.
• Situasi konkret memaksa kita untuk bersikap; mengikuti atau sebaliknya (menolak) tuntutan ketiga lembaga normatif tersebut. Manusia secara moral, hanya berkewajiban menaatinya sejauh tuntutan itu sesuai dengan suara hatinya.
Sehingga suara hati menjadi nyata dalam kebijaksanaan diri yang diambilnya di hadapan suatu peristiwa hidup yang konkret.
• Ketiga lembaga normatif itu menyediakan pengetahuan bagi putusan-putusan suara hati, namun demikian, toh mereka tidak berhak mengikat suara hati begitu saja, mereka tidak dapat menghapus tanggungjawab kita untuk akhirnya sendiri memutuskan apa yang menjadi kewajiban kita dalam situasi-situasi konkret yang kita hadapi.


ANALISA
Suara Hati : Kesadaran moral dalam situasi personal, konkret dan aktual,
•Personal : Selalu berkaitan erat dengan pribadi tersebut, diwarnai oleh kepribadian orang tersebut dan akan berkembang pribadinya.(subjek)
•Konkret: Keputusan Suara hati terjadi dalam situasi nyata dan tertentu, bukan dalam situasi umum.
•Aktual: Keputusan Suara hati hanya terjadi pada saat itu saja ( tidak dapat diulangi).

FUNGSI SUARA HATI
1. Prospektif: menunjuk apa yang harus dipilih /dilakukan,
2. Introspektif : mawas diri, menilai tindakan yang telahdilakukan.
3. Retrospektif:
Baik :Ganjaran (puas,bahagia,damai)
Buruk: Hukuman (gelisah,tidak tenang, takut, marah dan muak terhadap diri sendiri)







FUNGSI SUARA HATI TERHADAP NORMA

1. Suara hati Menginternalisasikan norma dan menyuarakan kembali dalam situasi konkret.
2. Suara hati menangkap nilai-nilai yang ada di balik norma (mempertimbangkan, mengurutkan menurut bobot).
3. Suara hati mendorong tindakan-tindakan yang mewujudkan nilai-nilai secara benar.
4. Membina otonomi / kemandirian moral.

Dengan hati nurani kita dimkasudkan penghayatan tentang baik atau buruk berhubungan dengan tingkah laku konkret kita. Hati nurani ini memerintahkan atau melarang kita untuk melakukan sesuatu kini dan di sini. Tidak mengikuti hati nurani ini berarti menghancurkan integritas pribadi kita dan mengkhianati martabat terdalam kita.
Hati nurani berarti berkaitan erat dengan kenyataan bahwa manusia mempunyai kesadaraan moral. Kesadaran yang dimaksud disini adalah kesanggupan manusia untuk mengenal dirinya sendiri dan karena itu berefleksi tentang dirinya. Dalam hati nurani berlangsung juga penggandaan . bukan saja manusia melakukan perbuatan-perbuatan moral (baik atau buruk), tapi juga yang turut mengetahui tentang perbuatan-perbuatan moral kita. Dalam diri kita , seolah – olah ada instansi yang menilai dari segi moral perbuatan- perbuatan yang kita lakukan . hati nurani semacam “saksi” tentang perbuatan – perbuatan moral kita .





Enam tahap dalam perkembangan moral :

a)Tingkat prakonvensional
Pada tingkat ini si anak mengakui adanya aturan- aturan dan baik serta buruk mulai mempunyai arti baginya, tapi hal itu semata- mata di hubungkan dengan reaksi orang lain. Tingkat prokonvensional dijadikan menjadi 2 tahap :
•Tahap 1 : orientasi hukuman dan kepatuhan
•Tahap 2 : orientasi relatives instrumental

b) Tingkat konvensional
Pada tingkat ini perbuatan- perbuatan mulai di nilai atas dasar norma – norma umum dan kewajiban serta otoritas di junjung tinggi. Tingkat konvensional ini mencakup 2 tahap:
•Tahap 3 : penyesuiaan dengan kelompok atau orientasi menjadi anak manis
•Tahap 4 : orientasi hukum dan ketertiban (law and order)

c) Tingkat pascakonvensioanal
Tingkat ini disebut juga tingkat otonom atau tingkat berprinsip, pada tingkat ini hidup moral dipandang sebagai penerimaan tanggung jawab pribadi atas dasar prinsip- prinsip yang dianut dalam batin. Di bagi menjadi 2 tahap juga:
•Tahap 5 : orientasi kontrak – social legalistis
•Tahap 6 : orientasi prinsip etika yang universal

Seringkali hati nurani kaitkan dengan “superego”,bahkan tidak jarang kedua hal itu disamakan begitu saja. Istilah superego berasal dari Sigmund Freud dokter ahli saraf Autria yang meletakkan dasar untuk psikoanalisis dalam rangka teorinya tentang struktur kepribadian manusia. Superego adalah instansi yang melepaskan diri dari ego dalam bentuk observasi diri,kritik diri,larangan dan tindakan refleksi lainnya,dan tindakan terhadap diri sendiri yang di bentuk selama masa anak melalui jalan internalisasi( jalan pembatinan). Superego ini merupakan dasar fenomena yang kita sebut “ hati nurani”.

Apakah hati nurani bias disamakan dengan superego? Atau kedua hal itu berbeda. Hati nurani dipakai dalam konteks etis, sedangkan superego berperanann dalam konteks psikoanalitis. Aktivitas superego bisa tak sadar, baik sumber rasa bersalah maupun rasa bersalah itu sendiri tetap tidak disadari. Sedangkan dalam konteks etis, hati nurani bisa berfungsi dalam taraf sadar yang berperan menjadi penuntun dan penyuluh di bidang moral.



















PENUTUP

oKESIMPULAN
Dari makalah di atas dapat kita simpulkan bahwa hati nurani berperan penting dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu pembianaan hati nurani sangat penting dikembangkan dari masa anak- anak. Agar suara hati yang muncul pada saat pengambilan keputusan adalah suara hati yang menjadi penuntun dan penyuluh kehidupan moral kita.

oSARAN
Suara hati sebaiknya dikembangkan dari masa anak- anak, dan pentingnya peran orang tua, guru dan lingkungan yang baik sebagai otoritas konkret.


KEPUSTAKAAN

WWW.GOOGLE.COM
Berten.k, Etika (seri filsafat Atma Jaya;no.15), Jakarta, Gramedia,1993.
Powerpoint Dhanu Koesbiyanto,S.TH.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar